Sick Building Syndrome

sick building syndrome Dewasa ini pembangunan gedung perkantoran, hunian, dan pusat perbelanjaan semakin menjamur di kota-kota besar. Gedung-gedung yang telah lama berdiri pun berlomba-lomba melakukan penghematan energi dengan menurunkan intensitas konsumsi energi mereka di tengah tingginya harga energi. Namun, apakah dengan melakukan upaya penurunan konsumsi energi itu pengelola gedung dapat tetap menjamin kesehatan penghuninya? Apakah penghuni gedung tersebut bebas dari Sick Building Syndrome? Lalu apa itu Sick Building Syndrome dan apa pengaruhnya terhadap operasional suatu gedung atau perusahaan-perusahaan yang ada dalam gedung tersebut? Sick Building Syndrome merupakan kumpulan dari berbagai gejala penyakit yang dirasakan pada diri seseorang dan terlihat berkaitan dengan lamanya orang tersebut berada dalam suatu bangunan tertentu. Gejala ini sering terjadi di lokasi kerja meski penyebabnya bisa tidak  teridentifikasi secara spesifik apakah karena udara yang tidak tersirkulasi dengan baik, material di sekitar, posisi ruang dan beban kerja yang mempengaruhi psikologis penghuni gedung, atau kombinasinya. Gejala-gejala dari sindrom ini antara lain:
  • Sakit kepala atau pusing
  • Mual
  • Nyeri
  • Kelelahan yang ekstrim
  • Konsentrasi menurun
  • Sesak napas
  • Iritasi mata dan tenggorokan
  • Iritasi hidung
  • Iritasi kulit
Gejala tersebut dapat muncul salah satunya atau bahkan kombinasi dengan yang lainnya dan bisa beragam setiap harinya. Setiap individu penghuni gedung dalam bangunan yang sama bisa menderita gejala yang berbeda. Gejala ini bisa semakin meningkat atau bahkan menghilang sama sekali ketika individu meninggalkan gedung dan gejala tersebut sering kembali ketika individu itu memasuki gedung yang sama lagi. Siapa saja yang bisa menderita Sick Building Syndrome? Setiap individu yang beraktivitas lama di dalam suatu gedung dengan ventilasi yang tidak memenuhi standar dan kualitas udara buruk memiliki resiko paling besar. Hal ini selain menimbulkan penyakit juga dapat menyebabkan menurunnya produktivitas individu tersebut sehingga akan mengeluarkan output yang tidak optimal untuk perusahaan. Adapun faktor-faktor yang bisa meningkatkan gejala Sick Building Syndrome antara lain:
  • Ventilasi atau suplai udara segar yang tidak memenuhi standar atau bahkan sangat kurang sekali
  • Temperatur ruangan yang tinggi
  • Rutinitas pembersihan ruangan kerja yang kurang efektif
  • Pencahayaan yang kurang
  • Merokok di tempat kerja
  • Sistem Tata Udara yang kurang terawat
  • Kelembaban yang tidak sesuai dengan standar
  • Faktor psikologis penghuni gedung
  • Penggunaan material yang mengandung Volatile Organic Compound
  • Bakteri yang mengkontaminasi udara karena pengolahan sampah dan limbah yang buruk dan exhaust fan toilet yang tidak memenuhi kebutuhan
Oleh sebab itu selain berupaya menurunkan konsumsi energi, pengelola gedung juga perlu memperhatikan faktor kesehatan penghuni gedung karena sangat berpengaruh pada produktivitas kerja mereka. Caranya adalah dengan:
  • Melakukan survey penghuni gedung untuk menemukan apakah gejala yang mengarah ke Sick Building Syndrome ini muncul lebih sering daripada yang diduga. Selain itu survey ini dapat membantu untuk mengidentifikasi penyebab yang sudah jelas dan dapat dengan mudah disesuaikan seperti misalnya mengatur temperatur ruangan.
  • Memeriksa kebersihan gedung, termasuk memeriksa vacum cleaner apakah masih bekerja dengan baik dan apakah secara rutin dibersihkan
  • Memeriksa dan mengevaluasi material yang digunakan untuk kebersihan apakah sudah dipakai dan disimpan sesuai prosedur
  • Memeriksa dan mengevaluasi kerja peralatan Sistem Tata Udara, terutama sistem yang menyuplai udara segar ke dalam gedung
  • Memeriksa dan mengevaluasi kondisi dan kebersihan filter udara, humidifier, dehumidifier, dan cooling tower
  • Memeriksa dan mengevaluasi jadwal perawatan peralatan Sistem Tata Udara dan memastikan bahwa sudah dijalankan sesuai dengan prosedur dan jadwal
  • Memeriksa dan mengevaluasi kualitas udara, air, dan air minum secara teratur
Audit energi selain bertujuan untuk mengevaluasi konsumsi energi termasuk poin-poin yang telah disebutkan sebelumnya dan sebagai upaya pengelola gedung untuk mencari potensi penghematan pemakaian energi, auditor energi yang melakukan aktivitas tersebut juga harus paham dan memperhitungkan faktor kenyamanan termal berdasarkan standar-standar yang berlaku. Lalu bagaimana dengan lingkungan kerja Anda? Sudahkah Anda mengaudit kualitas bangunan yang Anda kelola atau tempati? PT Bika Solusi Perdana (BSP) memiliki tenaga ahli, pengetahuan dan keahlian tentang sistem peralatan mekanikal dan elektrikal untuk bangunan gedung maupun industri sehingga siap membantu dalam penerapan bangunan hijau (Green Building) dan audit energi. PT Bika Solusi Perdana (BSP) telah sukses membantu antara lain gedung RS Haji, gedung Harco Pasar Baru, Sequis Center, MidPlaza dan BRI II. Selain itu auditor/konsultan BSP juga memiliki pengalaman di industri besar seperti PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia – Karawang Plant, PT Pertamina TBBM Tanjung Gerem dan Plumpang, Surya Toto, PT Cheetham Garam Indonesia, industri kertas, tekstil, dan sebagainya. Untuk lebih lengkap mengenai profil kami dapat dilihat pada website www.bikasolusi.co.id atau email di marketing@bikasolusi.co.id Sumber: http://www.nhs.uk http://www.patient.co.uk http://www.globalhealingcenter.com
SEO Powered by Platinum SEO from Techblissonline
WhatsApp WhatsApp us