Netizen Indonesia Terkesan Dukung Rusia dan Putin, Dinilai Ada Pengaruh Isu Palestina

  • Share


Netizen Indonesia mendukung Rusia dan Putin dalam menginvasi Ukraina menurut data analisis numerik Evello

Pengunjuk rasa anti-perang di Berlin, Jerman, mengenakan topeng Putin, Biden dan Zelensky, menolak eskalasi konflik Ukraina-Rusia. Foto oleh Sean Gallup/Getty Images

Hampir tiga minggu lalu, sejak pemerintah Rusia melancarkan serangan militer mematikan di tanah Ukraina, hanya satu kali demonstrasi anti perang yang digelar di depan Kedutaan Besar Federasi Rusia di Jakarta. menangani Oleh Aliansi Teh Susu Gerakan Solidaritas Demokrat Indonesia pada 4 Maret, media mengambil gambar demonstrasi terlihat kesepian.

Situasi ini berbeda dengan blok “langsung” ketika beberapa demonstrasi diadakan di kedutaan antara tahun 2014 dan 2016. Dan khususnya ketika Partai Pembebasan Indonesia menuntut pembebasan anggota Partai Pembebasan Rusia yang telah ditangkap oleh otoritas Rusia (2014Kelompok Ansar al-Syariah mengutuk keterlibatan Rusia dalam agresi di Suriah.2015Aliansi Merah Putih juga mengutuk peran Rusia dalam agresi Suriah (2016).

Anomali sudah terjadi. Menanggapi serangan udara dan rudal Rusia ke Ukraina sejak 24 Februari yang dilakukan tanpa provokasi, publik Internet Indonesia menunjukkan dukungannya kepada negara Beruang Merah. Ungkapan “Uraa” dari bahasa Rusia kini mulai menjadi motif umum yang digunakan dalam wacana di media sosial dan meme.

Pengamat juga percaya bahwa fenomena ini sedang terjadi. pada Artikel Diunggah di situs University of Melbourne, dosen Hubungan Internasional Universitas Irlanga Raditeu Dharmaputra menulis:

“Masyarakat Indonesia khususnya pengguna internetterus bersimpati dengan posisi Rusia (jika tidak mendukung penuh). benang benang Pro-Rusia menjadi sangat populer di kalangan netizen Indonesia. Komik pro-Rusia (ternyata berasal dari konten media sosial China, Weibo) yang menyamakan perang ini dengan konflik mantan suami istri marak di grup-grup WhatsApp di Indonesia. Mungkin yang paling meresahkan, sejumlah akademisi Indonesia juga mendukung posisi Rusia. Dukungan ini berkisar dari mengkritik kecaman pemerintah Indonesia terhadap Rusia hingga mereproduksi novel-novel buatan Rusia dalam berbagai kuliah dan artikel.”

Baca Juga :  Varian Deltacron Bikin Heboh, Sudah Terdeteksi di Indonesia?

Sejauh ini, belum ada organisasi yang merilis data opini pengguna internet Indonesia terkait invasi Rusia ke Ukraina. platform pemantauan digital sekarang Diskusi tentang topik perang ini berkembang di Internet Indonesia.

Pertanyaannya adalah: mengapa? Para komentator membandingkan fenomena ini dengan protes besar-besaran netizen Indonesia atas kudeta Myanmar, agresi Suriah, dan pencaplokan Palestina oleh Israel. Ada apa yang membuat warga internet Indonesia memilih berpihak pada agresor kulit putih ketimbang Muslim?

Di mata netizen Indonesia, yang terjadi adalah perang Amerika Serikat melawan Rusia

Sejumlah analisis dan laporan pers mencoba menjawab “anomali” ini. Pertanyaan ini terutama dipicu oleh artikel Radityo yang disebutkan di atas.

Radityo mengemukakan dalam artikelnya tiga faktor yang menyebabkan fenomena ini. Faktor pertama adalah sikap warga negara Indonesia terhadap pemerintah AS dan Barat, serta sifat munafik negara-negara Barat yang dipandang menggunakan standar ganda dalam menghadapi konflik bersenjata. Pengguna internet menganggap pemerintah Ukraina yang dipimpin oleh Presiden Volodymyr Zelensky sebagai boneka politik Barat yang suka memecah-belah wilayah untuk keuntungan pribadi. rangkaian Akun anonim ini dalam bahasa Indonesia, misalnya. Disukai 12 ribu kali, judulnya jelas Deskripsi posisi pembuat rutePutin vs. Biden: Menjelang akhir putaran pertama.

Hasilnya adalah faktor kedua. Vladimir Putin dipandang sebagai sosok kuat yang berani menentang hegemoni Barat, dan karena kekagumannya ini. Kedua faktor ini diperkuat oleh faktor ketiga, yaitu selama beberapa tahun ada upaya untuk menggambarkan Rusia sebagai sekutu Islam.

Bagian ini mungkin tampak aneh, mengingat komunis Rusia di masa lalu, dan persepsi yang berlaku di Indonesia bahwa komunisme adalah anti-Islam. Invasi Soviet ke Afghanistan pada 1970-an dan perang Chechnya pada 1990-an memperkuat pandangan ini. Dan baru pada tahun 2015 tentara Rusia yang menyerang Suriah menyebabkan demonstrasi besar-besaran di Indonesia.”

Baca Juga :  Jadi Mahasiswi Undip, Pernah Bikin Video Syur Bareng Pacar Lalu Dijual

Dia mencatat, perubahan persepsi publik Indonesia tentang Rusia yang semula negatif terjadi sejak 2015, melalui karya outlet media bernama Russia Beyond the Headlines (RBTH) Indonesia di Internet. Media ini didanai oleh pemerintah Rusia.

Editor Diplomatik Sebastian Strangio percayaPermainan disinformasi dan disinformasi memainkan peran besar dalam membentuk sikap pro-Rusia di kalangan pengguna Internet Indonesia. Terkait klaim ini, South China Morning Post (SCMP) Transfer Terjemahan anekdotal konten Weibo menyebar di antara orang Indonesia Tionghoa dan memperoleh dukungan untuk Rusia dari grup ini.

Pembicara SCMP MengatakanKisah itu diterima karena sesuai dengan sentimen orang Tionghoa Indonesia yang pro-Tionghoa. Kelompok ini menganggap Amerika Serikat dan negara-negara Barat telah menindas China sebagai penyebab epidemi Covid-19.

Konten Weibo kini menjadi viral di media sosial. Berjudul “Rusia vs. Ukraina (dalam versi seri untuk memudahkan pemahaman)”, konten tersebut membandingkan Rusia sebagai mantan suami dan Ukraina sebagai mantan istri. Amerika Serikat berperan sebagai kepala preman NATO yang mencoba menikahi mantan istrinya sambil mendorong mantan istri untuk bermusuhan dengan mantan suaminya. Layaknya sebuah sinetron Indonesia yang suka mengarang karakter hitam putih, kisah ini memposisikan Rusia sebagai mantan suami yang menyakitkan.

Selain faktor-faktor ini, ada kebencian terhadap Ukraina (dan Amerika Serikat) atas dukungannya terhadap penindasan Israel terhadap Palestina juga. Tampaknya jelas di media sosial Indonesia. Zelensky yang dalam serangan Israel terhadap Palestina tahun lalu dukung israelItu dianggap menuai karma.

Dalam wawancaranya dengan Detik, Radioteo mengungkapkan harapannya agar masyarakat Indonesia turut bersimpati dengan penderitaan rakyat Ukraina sebagai korban perang. “Satu-satunya yang bisa dilakukan oleh rakyat Indonesia (bukan pemerintah) adalah bersimpati dan memperkuat solidaritas dengan para korban perang dan menuntut agar Rusia segera mengakhiri invasi dan keluar dari wilayah Ukraina.” Dia berkata24 Februari lalu.

Baca Juga :  Kata Gus Dur, Gitu Aja Kok Repot

Sementara analis media sosial Ismail Fahmy mengatakan kompas Pengguna internet skeptis dengan arus informasi tentang perang ini. “Jadi netizen harus bersikap skeptis. Nah, biasanya jika terjadi misinformasi, ada pengguna di Internet yang menyatakan bahwa berita itu tidak benar, atau bahwa kejadian itu terjadi di tempat lain tetapi tampaknya terjadi di tempat itu atau mungkin itu berita lama” kata Ismail.

Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) TransferDari awal serangan rudal pada 24 Februari hingga 13 Maret 2022, total 636 orang tewas, termasuk 30 anak-anak. Korban tewas mencapai 1.125 pada musim gugur, ketika Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia percaya angka sebenarnya lebih tinggi. Sebagian besar korban terluka akibat ledakan senjata berat yang menargetkan wilayah yang luas. Perang ini juga membuat 2,8 juta orang Lari dari Ukraina.

Sementara itu, media Indonesia dalam meliput perkembangan perang tak lupa memuat konten hiburan. Meski terlihat simpati, Jenis artikel “7 Fakta Kuliner Vladimir Putin, Termasuk Rasa Es Krim Favoritnya” tentu bukan hal yang mengejutkan bagi netizen Indonesia.



  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.