Kultum Ramadhan Singkat Tema ‘Berbagai Godaan di Bulan Ramadhan’

  • Share


Tema Ramadhan singkat, “Berbagai Godaan di Bulan Ramadhan”. Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat dan penuh dengan kebaikan. Namun, ada beberapa godaan untuk beribadah di bulan Ramadhan.

Namun, menjalankan puasa di bulan Ramadhan tentu tidak semudah yang dibayangkan. Ada banyak godaan yang dapat melemahkan iman kita.

Di bawah ini adalah teks renungan singkat tentang “Pengalaman di Bulan Ramadhan” yang dikutip dari Surah Muhammadiyah.

Berbagai godaan di bulan Ramadhan

Saudaraku, setiap Ramadhan seperti sekarang selalu ada perasaan aneh di hatiku. Anda mungkin juga mengalami hal yang sama. Menurut ajaran Islam, Ramadhan bukan hanya bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriah.

Ramadhan bukan hanya bulan yang berhenti setahun sekali. Bagi umat Islam, bagi Anda, bagi saya dan bagi kita semua, Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Bulan yang sangat spesial bagi kami.

Salah satu keutamaan Ramadhan adalah kita diwajibkan berpuasa satu bulan penuh. Menurut dokter, Ramadhan kali ini kita berkesempatan untuk memperbaiki kembali sistem pencernaan kita.

Di bulan Ramadhan kita berkesempatan untuk membakar segala dosa yang telah kita kumpulkan sepanjang hidup kita.

Dengan memberi kita kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan Ramadhan, Rahman memberi kita kesempatan untuk memperbaiki semua cara hidup kita. Perbaikan gaya hidup untuk alasan ini. Seperti yang diarahkan.

Saudaraku, kalau boleh saya ingatkan, menurut ahli bahasa Arab, Ramadhan bisa diartikan panas yang menyengat. Perlu kita ketahui bahwa penanggalan Arab, sebelum datangnya Islam, menggunakan sistem penanggalan matahari (syamsiah).

Nama bulannya sama dengan nama bulannya. Karena menggunakan sistem penanggalan matahari, kedatangan setiap bulan selalu sama dengan musim.

Sebagai contoh, Januari di Indonesia, di setiap tahun, Januari di Indonesia selalu penuh dengan hari hujan.

Baca Juga :  Kultum Ramadhan Singkat Tema Makna Tidur Orang Puasa adalah Ibadah

Ramadhan di Arabia (ketika kalender matahari masih digunakan) selalu memiliki musim panas yang sangat panas. Rasanya seperti matahari terlalu dekat dengan mahkota. Panasnya seolah membakar bumi.

Bagi yang pernah ke tanah arab, di musim panas pasti bisa mengetahui suhu siang hari disana.

Namun, ketika Islam datang, sistem penanggalan berdasarkan perputaran matahari (syamsiah) digantikan oleh sistem penanggalan yang didasarkan pada perputaran bulan (qomariah).

Karena itu, Ramadhan bisa datang di musim panas atau musim dingin. Jika dipikir-pikir, perubahan sistem penanggalan ini sangat bermanfaat bagi umat Islam. Saat ini, umat Islam telah menyebar ke seluruh dunia.

Bahkan dekat kutub bumi, jauh dari khatulistiwa. Bagi orang yang tinggal di belahan bumi yang jauh dari garis khatulistiwa, perbedaan siang dan malam di musim dingin dan musim panas sangat parah.

Di musim panas, hari terkadang bisa bertahan 19 jam. Di sisi lain, di musim dingin, siang hari hanya beberapa jam.

Dengan beralih ke sistem kalender berbasis bulan, umat Islam yang tinggal di kedua belahan bumi yang jauh dari garis khatulistiwa dapat menikmati Ramadhan di musim panas dan musim dingin.

Saudaraku, meski terkadang datang di musim panas dan terkadang datang di musim dingin, makna Ramadhan tetap menyala. Ramadhan masih membara.

Dia tidak membakar bumi dan isinya, melainkan membakar semua dosa orang yang ingin mensucikan jiwa dan hatinya di Riyadh yang dia undang. Ini puasa sebulan.

Puasa atau abu menurut para fuqaha: Artinya menahan diri dari segala sesuatu yang merusak puasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Yang membatalkan puasa hanyalah makan, minum dan berhubungan badan dengan suami/istri. Pada dasarnya semua ini diperbolehkan, dan dapat dilakukan tanpa puasa.

Baca Juga :  Mau Feeds Instagram Terlihat Lebih Artsy? Ini 5 Tipsnya

Ketiganya boleh, tetapi diharamkan saat kita berpuasa. Ini disebut taman jiwa. Dalam puasa kita berlatih menahan ruh dan menahan diri.

Ada juga yang berpendapat: Ketika kita berpuasa, maka diharamkan berbohong. Padahal berbohong itu mutlak diharamkan oleh agama kita, baik itu saat tidak berpuasa, apalagi saat sedang berpuasa.

Tapi saudaraku, melihat cara puasa dan kebiasaan kita berpuasa hari ini, jiwaku sedikit gelisah.

Ada perasaan aneh dan tidak bisa dijelaskan di hati ini. Kita semua tahu bahwa puasa adalah salah satu bentuk olahraga outdoor dan indoor. Tapi mengapa kita terkadang lupa diri saat sarapan?

Terkadang kita melupakan diri sendiri dengan makan terlalu banyak hidangan. Bahkan, kebanyakan dari kita sengaja merias wajah untuk sarapan. Kita sering membaca di koran dan berita di TV, selama Ramadhan harga kebutuhan pokok naik dan permintaan juga naik.

Bukankah ini pertanda adanya kesalahan dalam cara masyarakat negeri ini berpuasa? Logikanya, jika kita biasanya makan tiga kali sehari sekarang dua kali sehari, kebutuhan kita di bulan suci ini harus berkurang tiga puluh persen.

Saudara, sebenarnya saya ingin melakukan Khusnodzan. Peningkatan kebutuhan bahan pokok ini disebabkan karena selama bulan Ramadhan banyak orang kaya yang bersedekah dan memberi makan orang miskin yang kekurangan makanan.

Bukan karena kita lebih rakus dan makan lebih banyak, tapi karena jumlah orang yang bisa makan justru bertambah karena kedermawanan orang kaya. Namun, apakah benar seperti itu? Terus terang, saya pesimis bahwa tebakan saya benar.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.