Hukum dan Tata Cara Mandi Wajib Setelah Imsak

  • Share


Saat memasuki bulan suci Ramadhan, umat Islam yang memiliki kenajisan yang signifikan diwajibkan untuk mensucikan diri dengan mandi.

Penyucian ini bertujuan untuk mensucikan jiwa, pikiran dan hati agar tersucikan kondisinya dan sah shalat dan puasanya.

Mandi wajib, juga dikenal sebagai mandi besar atau mandi radang selaput dada, dilakukan setelah hubungan seksual, setelah keluarnya air mani, dan setelah menstruasi dan nifas bagi seorang wanita.

Perbedaan antara mandi wajib dan mandi biasa terletak pada dua rukun yang harus dipenuhi, yaitu membaca niat wajib mandi, dan membasahi seluruh anggota tubuh dari ujung kepala sampai ujung kaki tanpa kecuali.

Kewajiban mandi

Saya berniat mandi untuk menghilangkan najis yang besar

Nawaitu ghusla lifrafil hadatsil akbari fardhan lillahi ta’ala.

Artinya : “Saya niat mandi besar untuk menghilangkan firasat agung Tuhan Yang Maha Esa.”

Niat dapat diucapkan secara lisan, dan bahasa Arab atau Indonesia dapat diucapkan. Niat ini disebutkan pada saat yang sama ketika air pertama kali dituangkan ke dalam tubuh.

niat membaca.

Mengutamakan pengambilan air wudhu, yaitu sebelum mandi harus dilakukan wudhu untuk wudhu terlebih dahulu.

Menghadap kiblat saat mandi dan menempatkan sisi kanan di depan kiri.

Mengucapkan “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” di awal mandi.

Membasuh seluruh tubuh dengan air, yaitu mengoleskan air pada semua rambut dan kulit.

Utamakan mencuci semua kotoran dan feses dari seluruh tubuh.

Membasuh badan hingga tiga kali.

Membaca doa sebagai bacaan doa setelah wudhu.

Selama bulan puasa, kemungkinan hubungan seksual antara suami dan istri tidak dikecualikan di malam hari, setelah itu mereka tidak mandi sampai setelah sembelit.

Baca Juga :  7 Tips Cara Mudah Agar Berhenti Merokok

Apakah ini boleh atau menunda mandi setelah sembelit berlalu membatalkan puasa?

Aisha radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Nabi, semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian, pernah menemukan waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan najis, bukan karena mimpi basah. Kemudian dia , semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian, mandi dan tetap berpuasa.” (Bukhari dan Muslim).

Para ulama menyimpulkan dari hadits sebelumnya bahwa hukum mandi pada orang yang junub setelah menahan diri diperbolehkan. Bahkan para ulama juga mengatakan: Mandi orang yang junub itu berakhir sampai terbit fajar, mengingat waktu shalat subuh harus dalam keadaan suci.

Maka puasa orang yang mandi setelah sembelit adalah sah. Seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya, Rasulullah, semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian, biasa mandi saat fajar. Ia tetap berpuasa dan tidak wajib berpuasa.

Keabsahan puasa ketika mandi setelah menahan diri, ditegaskan lagi dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dan Al-Muthha.

Aisha radhiyallahu ‘anhu: “Seorang laki-laki berhenti di depan pintu dan berkata kepada Nabi, shalawat dan salam, dan saya mendengar: Ya Rasulullah, saya masih berdampingan sampai fajar meskipun Saya ingin berpuasa.”

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Aku juga saat fajar menyingsing di tengah-tengahku, dan aku ingin berpuasa, maka aku mandi dan berpuasa.

Laki-laki itu berkata: Wahai Rasulullah, engkau tidak seperti kami. Tuhan telah mengampuni dosa masa lalu dan masa depan Anda.”

Dia berkata: Demi Tuhan! Saya sangat berharap untuk menjadi yang paling takut akan Tuhan dari Anda semua. Saya paling mengenal aturan-aturan yang bisa membuat saya bertakwa.”

Ini adalah bacaan niat dan keharusan mandi di bulan Ramadhan. Dia mengimbau orang-orang yang junub untuk segera mandi wajib, agar mereka suci ketika mereka beribadah di hadapan Allah.

Baca Juga :  Wow! Ini Dia 5 Orang Tajir Melintir Se-Indonesia
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.