Ada Tiga Ekspresi Kemarahan, Yang Mana Anda?

  • Share


Lawakan Chris Rock yang menggunakan nama Jada Pinkett-Smith sebagai objek lawakannya, terkait penampilan rambut dan GI Jane, membuat Will Smith, suami Pinkett naik pitam. Ia pun meluapkan amarahnya secara langsung dengan memainkan rock di atas panggung saat acara berlangsung.

Sebenarnya, selain Chris Rock dan lawakannya, ada beberapa peristiwa di Oscar kemarin yang cukup bisa memicu amarah. Contohnya guyonan sang host Amy Schumer yang menyebut Kirsten Dunst, nomine pemeran pendukung terbaik sebagai seat filler, saat Schumer menyerobot kursi Dunst di suaminya, Jesse Plemons, yang jugamerki masuk pe.

Namun, bagaimana sebenarnya kita bisa mengendalikan amarah kita saat ada yang memicunya? Menurut psikiater Elisa Tandiono, emosi marah menjadi fungsi untuk bertahan hidup. Marah adalah salah satu emosi mendasar manusia yang wajar.

“​Dilihat dari sejarah perkembangan manusia, marah merupakan bagian dari evolusi. Marah bisa dibilang termasuk dari reaksi pertarungan atau lari (fight or flight reaction). Untuk bertahan hidup, saat itu manusia memerlukan rasa marah. Jika bertemu dengan musuh baik binatang buas ataupun diserang oleh kelompok manusia lain, rasa marah akan membuat manusia lebih siaga dan menyelamatkan nyawa. Oleh karena itu sampai sekarang kita bisa merasakan perubahan biologis dan fisiologis dalam tubuh kita saat kita marah seperti suhu badan meningkat, muka terasa panas, kontraksi otot, peningkatan gula darah kit dan hormon adrenadrensa m rain me kepada Media Indonesia, Selasa (29/3) .

Namun, jika rasa marah berlanjut atau terus menerus muncul, menurut Elisa hal itu akan mengganggu sistem imun, pencernaan dan gangguan saraf pusat. Hal ini dapat menyebabkan risiko hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke, penyakit lambung, penyakit usus besar, hingga meningkatkan risiko kanker.

Baca Juga :  Jadwal SIM Keliling Jakarta, Minggu 13 Maret 2022

Elisa menjelaskan ada tiga tipe ekspresi ekspresi. Pertama adalah agresi terbuka. Hal ini dilakukan saat orang mengeluarkan rasa marah dalam bentuk ledakan, ledakan dan menyerang orang lain secara verbal maupun fisik.

“Agresi kadang kala tidak hanya melukai orang lain tapi juga dalam bentuk melukai diri sendiri, misalnya meninju cermin, menabrakkan mobil dan sebagainya. Agresi terbuka yang paling sering menjadi pusat perhatian akibat kerusakan langsung yang terlihat seperti dijauhi oleh lingkungan maupun kontak dengan hukum,” contoh Elisa.

Kedua adalah tipe agresif pasif. Orang yang marah secara agresif sering kali tidak secara terbuka mengakui dirinya marah. Meskipun tidak terbatas pada gender, menurut dokter spesialis kedokteran jiwa di RS PIK Jakarta itu, perempuan lebih sering mengekspresikan amarah dalam bentuk ini.

“Selain kemungkinan tidak ada konfrontasi, perempuan-perempuan sulit untuk sabar dan tidak marah-marah. Maka rasa marah akan keluar dalam bentuk seperti ini. Contohnya adalah diam tidak mau berbicara (perlakuan diam) kepada suami sedang marah, sengaja menunda atau mengerjakan tugas asal-asalan karena marah pada atasan. Meskipun tidak ada kerusakan yang disebabkan oleh tipe ini dibandingkan dengan agresi terbuka, tetap saja marah dalam bentuk agresif yang agresif bukan merupakan bentuk yang sehat dan dapat merusak hubungan.”

Ketiga adalah tipe marah asertif. Menurut Elisa, cara ini adalah yang paling sehat untuk mengalirkan rasa marah. Dengan memiliki rasa percaya diri, kontrol diri dan bersedia mendengarkan.

“Berbicara mengenai hal yang mencetuskan rasa marah dan yang paling penting adalah memiliki hati yang terbuka untuk mendapat bantuan dalam menghadapi situasi tersebut. Marah asertif bahkan membuat suatu hubungan tumbuh dengan sehat. Saat menyampaikan perasaan, usahakan untuk fleksibel dan berbikiran terbuka untuk memandang dari pihak lain dan mencoba memahami perasaan pihak tersebut.”

Baca Juga :  Cerita Isran Noor Ngobrol ke Jokowi hingga Larut Malam: Cuaca Cerah

“Pikirkan hal yang ingin dikatakan terlebih dahulu dan percaya diri saat mengatakannya. Usahakan berbicara dengan nada rendah tanpa teriakan sehingga orang lain tidak merasa terancam dan menjadi defensif. Dengan marah secara tegas kita menunjukkan kedewasaan kita dan peduli akan hubungan kita dengan orang tersebut,” sambungnya.

Elisa melanjutkan, yang perlu diingat adalah bukan mengumbar pengalaman tapi mengekspresikan cara membangun untuk menyelesaikan masalah, untuk mengoreksi yang salah dan membuat hal tersebutarija di da masalah. Banyak orang mengira pihak itu menghukum, untuk memaksa orang lain mengaku salah.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap bisa mendapat yang sama dengan mengontrol rasa marah kita secara sadar. Maka ingatlah untuk marah dengan elegan!”

Memang sebagian orang menyadari dirinya memiliki masalah dalam mengontrol dan mengekspresikan ekspresi. Menurut Elisa, hal ini juga dipengaruhi oleh beberapa kondisi tertentu. Ada beberapa kondisi gangguan mental seperti gangguan bipolar, gangguan perilaku gangguan depresi pada anak dan remaja, dan gangguan stres pasca trauma.

“Jika Anda merasakan kesulitan mengontrol rasa meskipun sudah mencoba semaksimal mungkin, ada baiknya Anda pada tenaga kesehatan agar jiwa mendapat bantuan profesional.” (M-2)




  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.