5 Tren Pemasaran di 2022

  • Share


BikaSolusi.co.id – Tahun ini, acara diperkenalkan dengan tema memasuki kontes digital baru dan sebenarnya diadakan oleh MarkPlus, Inc.

Diantaranya pelonggaran regulasi pemerintah yang sangat ketat di masa pandemi, pengembangan wirausahawan wanita, kesuksesan MotoGP di Mandalika, investigasi kecelakaan Boeing, metaverse, dan peran Gen-Z yang saat ini mendominasi berbagai lini media sosial.

1. Teknologi Blockchain: Itu Kebangkitan NFT

Outputnya juga mengesankan, karena terjual habis dalam waktu yang relatif singkat. Dalam arah yang berlawanan, beberapa proyek akan mengungguli yang lain.

Sejalan dengan kondisi pasar yang semakin jenuh, investor, kreator, dan pengguna akan beralih ke metaverse dengan popularitas tertinggi.

Menawarkan banyak fasilitas untuk menikmati pengalaman dari rumah. Tren metaverse yang terus meningkat menuntut para pelaku industri untuk fleksibel.

Jelajahi apa sebenarnya metaverse dan bagaimana hal itu dapat menguntungkan perusahaan. Oleh karena itu, MarkPlus, Inc. Memperkenalkan bintang tamu Andes Rizky sebagai pendiri Shinta VR Indonesia.

“Hal ini karena perusahaan memahami bahwa inilah saatnya untuk mempersiapkan, momentum persiapan agar buah dapat dipetik di kemudian hari.

“Jadi Metaverse bisa membantu segala kebutuhan hidup manusia,” kata Andes.

Ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan interkoneksi akan menjadi pasar yang besar,” tambah Andes di HK Webseries 3, Kamis (31/3).

2. Isu prioritas G20: Hkesehatan, digital, dan Energi Berkelanjutan

Bagi Harmawan, ketiga fakta tersebut mampu menjadi strategi dan retasan para pengusaha untuk mendapatkan perhatian pemerintah.

Baca Juga :  Tablet 4G, 4 Speaker, Rp. 4 Jutaan Terbaik • Jagat Gadget

Oleh karena itu, kata Al-Harmawan, “Jika kita memperhatikan ketiga sektor ini, pemerintah akan sangat mendukung karena pemerintah sedang menuju ke sana,” ujarnya.

3. Ekonomi Bermasalah: Pemulihan Terhenti

Bagaimana perusahaan saling bersaing untuk membangun layanan digital yang kontekstual dan terpercaya, menarik generasi atau bisnis baru lintas sektor, dan berkolaborasi dengan berbagai pelaku industri, untuk membangun pengalaman konsumen, baik OMNI, offline maupun digital online.

4 . FOMO GENERATIONS: Apakah Semua Orang Menghasilkan Uang Tapi Anda

Fenomena (takut ketinggalan) kembali mewabah di era ini. Bagaimana itu? Label pengusaha “kaya gila” terus bermunculan, mempengaruhi budaya pertunjukan generasi muda yang semakin marak muncul di media sosial.

Hermawan menilai kekhawatiran Generasi Z tumbuh dengan fenomena ini, yang mendorong mereka ke arah budaya hiruk pikuk.

Jadi siapa sebenarnya Crazy Rich? Kaya Sejati? Atau Benar-Benar Gila Kaya? Ravi Ahmed, misalnya, adalah seorang selebriti yang sering disebut sebagai orang kaya yang gila.

Bagi Hermoan, Ravi adalah karakter yang kaya dan berhati-hati. “Ravi Ahmed sedang naik daun, dia tahu bahwa industri hiburan tidak berkelanjutan, jadi dia memperluas jangkauannya ke banyak bidang bisnis.S.

Dari berwirausaha, Anda bisa melihat peluang.

Berbicara tentang orang kaya yang benar-benar gila, Hermawan menyinggung karakter di Netflix’s Tinder Swindler dan Inventing Anna, “Jangan berbisnis tapi curang, lebih baik murah tapi rahasia.

“Kelemahan teknologi seperti ini, paradenya menarik banyak follower, padahal banyak follower juga berbahaya,” ujarnya.

5. Multiverse Marketplace: Offline Plus dan Online Plus.

paBanyak perusahaan hanya fokus pada saluran online atau offline. Bahkan ketika konsumen berbaur online dan offline, pemasar tidak bisa lagi Bedakan antara konsumen apakah mereka online atau offline.

Baca Juga :  XL Axiata-Vidio Hadirkan Bonus Video Premium untuk Keluarga Indonesia

Jadi sebagai seorang marketer harus menggunakan multiverse yaitu dunia online dan offline. “Jika kita melihat pasar multiverse, kita melihat plus dan online plus sudah terjadi.

“Pasar sudah berubah total. Kalau tidak online, bergerak sangat lambat. Tapi masih ada improvisasi,” tambah Hermawan, “lalu menyalurkan ide-ide yang bisa efektif di OMNI.”

Di akhir acara, Hermawan Carthage menekankan pentingnya penerapan CIEL dan PIPM oleh perusahaan.

“Startup harus bisa mengawinkan CIEL (Creativity, Innovation, Entrepreneurship and Leadership).

“Sebuah buku tentang ini telah ditulis oleh Dr. Jackie Mosseri, Dekan Markplus Institute, yang kami harapkan akan terbit di Bali sebelum G-20.”

Lebih lanjut Harmawan menekankan “Tidak hanya CIEL, ada PIPM (Produktivitas, Peningkatan, Profesionalisme, dan Manajemen) juga.

Dengan ini perusahaan mampu mencapai keuntungan dan peningkatan. Tanpa CIEL dan PIPM, dari mana investor ingin datang? Jadi CIEL dan PIPM harus bersatu.”

Berdasarkan analisis di atas, ada beberapa taktik bagi perusahaan untuk memenangkan perang digital di tahun 2022, yang disampaikan Ardhi Ridwansyah pada seminar ini sebagai Director of Operations MarkPlus Institute, dan Giovanni Alexander, Senior Associate di MarkPlus, Inc. Termasuk:

Perusahaan vs. Perusahaan:

  1. Membangun layanan digital: MyPertamina
  2. Berinvestasi secara bertahap dalam aktivitas pemasaran generasi baru: bank milik negara x Metaverse
  3. Berkolaborasi dengan pemain digital lainnya: Unilever x Shopee
  4. Meningkatkan Pengalaman Pelanggan: PLN Mobile

Perusahaan vs Startup:

  1. Membangun layanan kontekstual: BCA x Cloudera
  2. Menarik generasi baru dengan teknologi: Telkomsel By-U
  3. Mediasi dengan pemain lain di industri: RANS Entertainment x Noice
  4. Membangun Pengalaman Online: Gramedia

Startup digital vs perusahaan:

  1. Membangun Layanan yang Reputasi dan Andal: Ruang Guru dengan Duta Merek
  2. Menarik sektor premium atau komersial dengan kemanusiaan: Kopi Kenangan Heritage
  3. Non-intermediasi (penghapusan rantai pasokan) dengan pemain lain di industri: Antara
  4. Membangun Pengalaman Offline: Sociolla (Pengalaman Belanja Sebenarnya)
Baca Juga :  Peluang pemanfaatan drone dalam pembangunan Ibu Kota Negara Baru

mulai vs mulai:

  1. Membangun kompatibilitas produk dengan pasar: Seed menyediakan penasihat otomatis
  2. Pikat segmen premium atau bisnis dengan Bionic: BLITS (Blibli Loyalty Team Service)
  3. Membangun ekosistem: Goto (kolaborasi Goride, Paylater, Tokopedia dan Gopay)
  4. Membangun Pengalaman OMNI: JD.id (Buat toko terdekat dan fitur Online2Offline)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.