Akreditasi Laboratorium Uji: Satu Langkah dalam Menyambut MEA


Ketua Komite Akreditasi Nasional (KAN), Bambang Prasetya, dalam pemberian sertifikat akreditasi SNI ISO/IEC 17025:2008 Laboratorium Uji Departemen Teknik Sipil FTUI dan sertifikat re-akreditasi SNI ISO/IEC 17025:2008 Laboratorium Uji Departemen Teknik Metalurgi dan Material FTUI, Jumat 21 Agustus 2015 di Ruang Chevron, Dekanat FTUI, mengungkapkan bahwa akreditasi laboratorium merupakan suatu kontribusi nyata dalam memperkuat posisi Indonesia dalam daya saing menghadapi MEA.

SNI ISO/IEC 17025 merupakan perpaduan antara persyaratan manajemen dan persyaratan teknis yang harus dipenuhi oleh laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi. Laboratorium yang telah menerapkan SNI ISO/IEC 17025 sudah sesuai dengan persyaratan standar ISO 9001.

Karena KAN sudah mempunyai perjanjian saling pengakuan (Mutual Recognition Agreements: MRA) dengan badan akreditasi negara lain, maka dengan pemberian akreditasi dari KAN, hasil pengujian dan hasil kalibrasi dari Laboratorium Uji Departemen Teknik Sipil FTUI dan Laboratorium Uji Departemen Teknik Metalurgi dan Material FTUI diterima oleh negara-negara yang tergabung dalam MRA.

Beberapa manfaat penerapan dan akreditasi SNI ISO/IEC 17025 antara lain:

  1. Pengurangan risiko, memungkinkan laboratorium untuk menentukan apakah personel melakukan pekerjaan dengan benar dan sesuai dengan prosedur.
  2. Komitmen untuk semua personel laboratorium sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
  3. Perbaikan terus-menerus sistem manajemen laboratorium.
  4. Pengembangan keterampilan personel melalui program pelatihan dan evaluasi efektivitas kerja mereka.
  5. Meningkatkan citra serta meningkatnya kepercayaan dan kepuasan pelanggan.
  6. Pengakuan internasional, melalui perjanjian saling pengakuan antar badan akreditasi di berbagai negara.
  7. Menghindari kesalahan dan pengulangan dari proses pengujian atau kalibrasi.
  8. Pengurangan pengaduan dan keluhan pelanggan.
  9. Keuntungan dalam bidang pemasaran jasa laboratorium.
  10. Perbandingan kemampuan antar laboratorium.

Bambang mengungkapkan bahwa akreditasi ini tidak hanya membanggakan Badan Standardisasi Nasional (BSN) dan KAN, tapi juga membanggakan Indonesia. Dalam menghadapi MEA, Indonesia harus memberikan pelayanan-pelayanan bidang pengujian, karena kekuatan menghadapi pasar global, baik MEA maupun internasional, memerlukan standardisasi, regulasi teknis,  dan penilaian kesesuaian. “Ketiganya merupakan piranti untuk bertempur di zaman perdagangan sekarang”, ungkapnya.

Penerapan dan akreditasi ISO/IEC 17025 pada laboratorium uji ini dapat mendukung para pelaku usaha dan pemerintah dalam menerapkan SNI. Dalam kesempatan ini, Bambang juga memaparkan bukti bahwa SNI dapat meningkatkan daya saing, antara lain SNI Ban dalam Kendaraan Bermotor, dan SNI Keamanan Mainan.

Sumber: www.bsn.go.id